Catatan Untuk Demonstran, Berjuanglah Kawan.

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Siang ini, salah satu pertanyaan yang masuk dalam list chat whatssup saya datang dari seorang mahasiswa, yang meminta pendapat terkait demonstrasi penolakan terhadap omnibus law cipta kerja yang lagi-lagi berujung chaos hampir diseluruh negeri.

Pertama, saya setuju bahwa ditengah krisis seperti ini sangat penting untuk terus bersuara, meneriakkan seruan terhadap para wakil rakyat yang terkesan tutup mata dan tutup telinga. Kesan seperti itu mau tak mau pasti akan membentuk jarak antara pemerintah dan masyarakatnya. Konsekuensinya, adalah memperkeras suara agar kita bisa didengarkan. Tetapi, itu bukanlah sesuatu yang niscaya, meski kita terus berusaha.

Tidak sedikit anggapan yang miring terhadap para demonstran. Biasanya datang dari orang tua dan orang-orang umum yang tidak senang dengan kebisingan, atau merasa kegiatan sehari-harinya menjadi terganggu karena kegaduhan yang dibuat dari demo, atau juga, orang-orang merasa pesimis dengan aksi tersebut. Ini menjadi cukup dilematis. Sementara, para aktivis dengan toa, memasang badan, kadang-kadang harus dibawah terik matahari yang membakar, berdesak-desakan dijalan, menghirup debu dan asap yang mengepul kelangit, berdiri dan berteriak atas nama masyarakat.

Pertanyaannya, masyarakat yang mana?

Dilema lain yang sering kita hadapi, bahwa ada saja korban yang jatuh dari kericuhan demo membuat kita perlu berbesar hati untuk kembali mengevaluasi gerakan yang kita ambil. Apakah para korban yang jatuh itu adalah sesuatu yang kita rencanakan? Saya yakin tidak. Setidaknya menekan angka korban yang jatuh adalah tugas bersama. Sebab kita mampu membuka kemungkinan-kemungkinan berdasarkan fakta sejarah demo di Indonesia. Siapa yang akan bertanggungjawab? Bagaimana dengan keluarganya? belum lagi, fasilitas-fasilitas yang seringkali menjadi sasaran amuk yang juga menggunakan hasil pajak rakyat. Siapa yang diuntungkan, dan siapa yang dirugikan dari tindakan semacam ini perlu kita dudukkan habis-habisan. Tidak cukup hanya dengan unjuk kekuatan fisik. Atau tenggelam dalam emosi yang berapi-api.

Dikesempatan ini saya ingin menyampaikan. Bahwa ada sesuatu yang lebih mendasar daripada mengharapkan sebuah kemenangan yang praktis. Tahapan-tahapan teoritis yang berkesadaran perlu untuk terus dilakukan. Upaya demonstrasi adalah satu bagian untuk menekan pemerintah. Tetapi bagaimana menjaga keberlanjutan pemerintah yang baik adalah sesuatu yang membutuhkan proses yang panjang, dan dimulai dari diri sendiri bukan hanya dari menuding dan menodong diluar. Khawatir, ketika muda kita asik turun kejalan, ketika tua kita juga masuk jadi bagian politik otoritarian.

Barangkali, kericuhan dan chaosnya demonstrasi yang kita gelar tidak saja menunjukkan bahwa betapa dinamika ini tidak hanya datang dari pihak aparat yang cenderung menjadi tembak dan benteng bagi pemerintah, tetapi juga mengingatkan kita bahwa kondisi emosional oknum-oknum demonstran tidak berada pada fase yang cukup stabil untuk menjaga apa yang menjadi tujuannya. Kenyataan yang paling terlihat, masyarakat dan aparat, dua-duanya menjadi korban.

Pertanyaannya, kemana masyarakat?
Mengapa mereka tidak turun bergerak bersama? Apakah mereka tidak merasa urgen untuk turun kejalan? Atau mereka kurang merasa terwakilkan dengan gerakan para demonstran?

Mungkin ini sedikit catatan yang bisa saya renungkan dalam rangka menjaga suara kita agar tidak bungkam, tentu bukan untuk menegasi aksi demonstrasi. Seperti yang tercatat diawal, bahwa sangat penting untuk berteriak dimasa-masa ketika suara tidak lagi didengar. Bersuara saja belum tentu didengar, apalagi jika tidak. Semoga para demonstran sehat selalu, para korban cepat pulih, dan diberikan kesadaran dan independensi yang cukup untuk membawa gerakan demi cita negeri kita yang lebih baik. Tetap bersuara!(JI/rls)

Andi.Pj

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719