Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim (kanan) didampingi Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Unifah Rosyidi (kedua kanan) menyerahkan penghargaan kepada sejumlah guru berprestasi pada puncak peringatan HUT KE-74 PGRI di Stadion Wibawa Mukti, Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (30/11/2019). ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah/wsj.

UN Dihapus, Kemendikbud: Parameter Siswa Ditetapkan Sekolah

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kemendikbud Ade Erlangga Masdiana mengatakan apabila Ujian Nasional (UN) dihapus ataupun dialihkan menjadi asesmen kompetensi, maka parameter penilaian peserta didik akan diserahkan secara otonom kepada masing-masing sekolah.

“Guru-guru bisa menentukan target-target kurikulum. Penentuan kurikulum ada di sekolah. Anak-anak tidak ditentukan pada satu atau beberapa mata pelajaran, lulus atau tidaknya,” ujar Ade dalam sebuah diskusi, di Jakarta Pusat, Sabtu (15/12/2019).

Hal itu, kata Ade, bertujuan untuk melihat kualitas pendidikan secara komprehensif. Peserta didik dapat mengembangkan potensi-potensi dalam dirinya, sehingga kualitasnya menjadi lebih variatif saat hendak diaplikasikan dalam dunia kerja ataupun masyarakat.

“Misal anak-anak yang punya standar seni, matematika, sains, dan sebagainya. Sesuai bidangnya masing-masing. Ketika di dunia kerja, mereka bisa menjadi konten kreator, pebisnis, sehingga mereka bisa menjadi apa saja,” ujar dia.

Wacana penghapusan atau pengalihan UN sudah melalui jajak pendapat dari berbagai pemangku kepentingan. Antara lain asosiasi guru, LSM, lembaga pendidikan. Termasuk hasil evaluasi dari Programme for International Student Assessment (PISA).

Terlebih lagi hasil PISA Indonesia pada 2018 terbilang mengecewakan. Indonesia berada pada peringkat 10 terbawah dari 79 negara dalam kategori matematika, literasi, dan sains.

Penurunan PISA, menurut Ade, disebabkan karena kecenderungan menghafal yang dilakukan pada proses belajar mengajar. Peserta didik sukar menganalisis kasus. Hal-hal semacam ini yang menjadi salah satu upaya munculnya wacana penghapusan atau pengalihan UN.

“Ini yang menjadi penting karena Kemendikbud ingin ciptakan suasana sekolah yang happy. Merdeka belajar itu bahwa pendidikan itu harus ciptakan suasana yang membahagiakan bagi guru, peserta didik, orangtua dan semua umat,” tutup dia.

Sumber: tirto.id – Pendidikan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719