Perairan Teluk Basamuk, Papua Nugini, berubah warna karena tercemar limbah tambang nikel perusahaan milik China. (NIGEL UYAM /via REUTERS)

Pantai Papua Nugini Tercemar Limbah Tambang Nikel China

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Otoritas Sumber Daya Mineral Papua Nugini menutup sebagian area Teluk Basamuk karena diduga tercemar limbah tambang nikel milik perusahaan asal China. Kilang itu menyemburkan lumpur yang diduga beracun ke pantai di sekitar pabrik pada Sabtu pekan lalu.

Badan tersebut mengatakan air di pantai sekitar tambang yang terletak di utara Papua Nugini itu berubah warna menjadi merah akibat kejadian itu. Limbah itu dilaporkan berasal dari sejumlah tangki kilang Ramu Nickel yang bocor.

Tambang nikel tersebut diketahui dioperasikan oleh perusahaan milik pemerintah Tiongkok, China Metallurgical Group.

Semburan lumpur dilaporkan telah terjadi selama satu jam sejak kebocoran terjadi. Otoritas menuturkan insiden tersebut diperkirakan mulai terjadi sekitar pukul 04.30 waktu lokal, tetapi pihak perusahaan baru melaporkannya pada Sabtu sore.

Aparat Papua Nugini baru bisa mencapai lokasi kejadian pada Senin pekan ini. Menteri Pertambangan Johnson Tuke juga telah meninjau langsung area terdampak kebocoran.

Otoritas Sumber Daya Mineral mengatakan tengah melakukan peninjauan darurat untuk melihat skala kerusakan lingkungan akibat insiden ini.

Lembaga itu juga menuturkan telah mengevakuasi warga di sekitar pabrik dan pantai demi “mencegah masyarakat desa mendekati atau memancing di sekitar area kebocoran”. Otoritas juga terus melakukan penyelidikan untuk menentukan tingkat racun, keasaman (pH), serta apakah unsur-unsur kimia berat telah terurai.

“Penyelidikan akan menentukan pada tahap mana perusahaan gagal melakukan prosedur. Penyelidikan juga akan menentukan tindakan perbaikan yang diperlukan untuk dilakukan,” ucap otoritas Papua Nugini seperti dikutip AFP, Kamis (29/8).

“Sementara itu, kami berusaha memaksimalkan upaya kami melindungi masyarakat lokal sebagai prioritas kami.”

Hingga kini, belum jelas apa yang menyebabkan kebocoran kilang dan tumpahan lumpur tersebut. Namun, sejumlah laporan menuturkan bahwa kebocoran terjadi akibat pompa lumpur atau pipa kilang yang kemungkinan rusak.

Praktik pertambangan Ramu Nickel memang telah menjadi kontroversi sejak awal perusahaan itu beroperasi di Papua Nugini sejak 2012 lalu.

Pembangunan tambang tersebut bahkan sempat molor selama dua tahun dari jadwal seharusnya, karena proses tuntutan hukum yang berakhir di Mahkamah Agung.

Sejumlah warga pemilik tanah menolak kegiatan tambang tersebut lantaran pihak pabrik kerap membuang limbah ke laut, alih-alih membuangnya ke tempat pembuangan sampah tambang atau Deep Sea Mine Tailings Placement (DSTP).

Insiden ini terjadi ketika China Metallurgical Group baru-baru ini dilaporkan meminta pemerintah Papua Nugini untuk menyetujui rencana mereka menambah kapasitas produksi nikel. (rds/ayp)

Sumber; cnnindonesia.com

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719