Dr. H. Abdul Wahid, MA - Foto Pribadi

Menyongsong Penerapan New Normal di Makassar Sebagai Sebuah Alternatif

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Dr. H. Abdul Wahid, MA
Dosen & Muballigh Makassar

JARINGAN INDONESIA – Penyebaran virus corona semakin hari nyaris tak bisa dibendung walau berbagai upaya telah dilakukan oleh berbagai negara di dunia yang terdampak virus ini termasuk Indonesia.

Walaupun di negara asalnya Wuhan China sudah mulai mereda, tapi di berbagai negara di dunia termasuk Amerika Serikat yang selama ini dikenal sebagai negara Adi Daya dan polisi dunia, kini korban yang meninggal akibat virus ini telah mencapai angka yang sangat di luar kewajaran, konon telah melampaui lebih dari 100 ribu orang.

Angka ini tentu sangat berbahaya bagi kelangsungan kehidupan  manusia, sebab jika tidak segera ditemukan obat atau cara yang tepat untuk mengobati virus ini, maka akan mengancam kepunahan hidup manusia.

Berbagai usaha nyata telah dilakukan oleh pemerintah Indonesia sebagai komponen yang paling bertanggungjawab dalam melindungi tumpah darah dan keselamatan bangsa sesuai amanah konstitusi harus kita apresiasi walaupun hingga saat ini belum berhasil menekan korban meninggal akibat serangan pandemi virus corona.

Diawali dengan pemberlakuan PSBB di DKI Jakarta, dan kemudian disusul oleh berbagai daerah di Indonesia termasuk di kota Makassar, tapi tampaknya upaya ini belum menunjukkan hasil yang signifikan untuk menekan dan memutus mata rantai penyebaran virus corona di tengah masyarakat. Korban yang meninggal di Indonesia akibat virus ini telah mencapai angka lebih seribu orang.

Pemberlakukan PSBB di beberapa daerah di Indonesia dan kota Makassar lebih khusus lagi telah berdampak pada berbagai sektor kehidupan masyarakat, salah satu diantaranya kini adalah sektor ekonomi.

Masyarakat kota Makassar saat ini mulai kesulitan dalam mempertahanankan hidupnya, terutama mereka yang bekerja di sektor informal, seperti buruh, pedagang kaki lima, pedagang tradisional dan lain sebagainya, walaupun sebelumnya pemerintah telah menyalurkan bantuan kepada mereka yang kurang mampu dan terdampak virus corona, tapi hal itu tidak bisa mencukupi kebutuhan mereka.

Kesulitan ekonomi ini terjadi  akibat dari adanya pemberlakuan PSBB, walaupun disadari bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah kota Makassar adalah untuk kemaslahatan masyarakat juga. Namun demikian, sepertinya perlu ada kajian kembali secara mendalam agar tidak membuat masyarakat semakin kesulitan terutama pada sektor ekonomi, jika hal ini tidak dilakukan, maka hanya akan ada dua pilihan bagi masyarakat, yaitu “mati karena virus corona atau mati karena kelaparan”.

Secara sosiologis, jika kebutuhan perut sulit untuk dipenuhi oleh masyarakat, maka akan rentan menimbulkan  tindak kejahatan di masyarakat, hal yang demikian senada disebutkan dalam sebuah riwayat, “kaa dal faqru an yakuuna kufran”, kadang kala kefakiran akan mengakibatkan kekufuran”. Jika hal ini terjadi, maka akan menambah tugas dari Polri lebih khusus lagi jajaran Polda Sulawesi Selatan dalam menjaga kamtibmas dan penegakan hukum.

Pasca diberlakukan PSBB dua kali di kota Makassar kini pemerintah mulai melakukan evaluasi dan mencermati dinamika di masyarakat. Pemerintah pusat tengah mempersiapkan skenario kedua dalam menghadapi penyebaran virus ini, yaitu dengan pemberlakuan “New Normal”. Penerapan model ini yaitu perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan menerapkan protokol kesehatan dengan tujuan untuk mencegah terjadinya penularan virus corona.

Dengan kata lain, pemerintah akan membuka kembali pusat-pusat perekonomian masyarakat, pendidikan, tempat ibadah, sektor pariwisata dan lain sebagainya, namun dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yakni masyarakat semaksimal mungkin berusaha untuk tetap menjaga jarak, menggunakan masker, menghindari kerumunan massa, sering mencuci tangan dan lain sebagainya, agar perekonomian tetap dapat berjalan dengan normal, sembari tetap waspada akan penularan virus yang amat mematikan ini.

Apa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dari pusat hingga ke daerah dalam bahasa agama disebut dengan mujahadah, artinya sebuah kesungguhan yang pantang menyerah. “Dan orang-orang yang mujahadah untuk mencari keridhaan Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al ‘Ankabuut [29]: 69).

Pesan moral dari ayat al-Qur’an ini  jika diterjemahkan ke dalam upaya yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam menghadapi penyebaran virus ini artinya “Niscaya Allah, akan memberi jalan keluar (solusi) yang tepat bagi bangsa Indonesia  jika tetap kita sebagai bangsa ber-mujahadah dalam menghadapi pandemi virus corona di republik ini.

Sesuai dengan kapasitasnya, pemerintah menyiapkan pemberlakuan New Normal, dan masyarakat pun diharapkan harus konsisten untuk mematuhi apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Sebab apa pun yang akan dilakukan pemerintah tidak akan berhasil secara maksimal jika tidak ada kerjasama dan partisipasi dari masyarakat dalam mematuhi ketentuan pemerintah. Kita tidak berhenti berharap dan berdo’a semoga bangsa kita bahkan dunia segera terbebas dari pandemi ini, agar kehidupan umat manusia bisa kembali normal, dan terkhusus bagi pemerintah Indonesia dan jajarannya, semoga senantiasa diberi kekuatan dan perlindungan oleh Allah dalam menghadapai berbagai musibah di tanah air. [bhy]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719