68 / 100

JARINGAN INDONESIA – Menyikapi Ketidakpastian dan Kompleksitas Bencana

Indonesia negara rawan gempa bumi karena berada pada zona tumbukan lempeng-lempeng tektonik aktif, yaitu lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Proses tumbukan lempeng-lempeng aktif itu terus berjalan sejak jutaan tahun yang lalu seiring dengan dinamika planet bumi kita.

Fenomena tumbukan lempeng tektonik ini mengakibatkan terbentuknya perlipatan batuan yang kita kenal sebagai pegunungan, gunung, perbukitan ataupun bukit, disertai lembah-lembah, ataupun dataran, dan cekungan yang berada di antara pegunungan dan perbukitan itu.

Di wilayah Indonesia, terdapat zona tumbukan lempeng berskala besar dengan panjang ribuan kilometer, yaitu zona tumbukan yang melampar (berserak-serak) di Samudra Hindia, di sepanjang sebelah barat Pulau Sumatra, menerus membelok ke sebelah selatan Pulau Jawa, hingga pulau-pulau di Nusa Tenggara, pada jarak kurang lebih 250 km dari tepi pantai. Zona tumbukan tersebut disebut zona subduksi Sunda.

Selain itu, terdapat zona subduksi, yang berada di Samudra Pasifik melampar ke arah timur, mulai sebelah utara Pulau Sulawesi hingga sebelah utara Papua, pada jarak kurang lebih 50 km. Proses tumbukan lempeng ini digerakkan arus konveksi di astenosfer (selubung bumi bagian atas) yang bersifat semiliquid.

Akibat dari gaya tumbukan lempeng-lempeng itu, terjadilah akumulasi energi yang tersimpan di dalam batuan penyusun lempeng-lempeng tersebut. Semakin lama proses tumbukan lempeng ini berlangsung mengakibatkan semakin besar energi yang tersimpan di dalam batuan dengan batas elastisitas tertentu.

Apabila elastisitas batuan yang terdorong oleh gaya tumbukan lempeng ini terlampaui, batuan yang terdorong atau terlipat itu akan patah disertai terlepasnya sejumlah energi yang terakumulasi di dalamnya. Pelepasan energi tersebut, pada saat batuan patah, akan mengakibatkan getaran atau guncangan yang kita rasakan sebagai gempa bumi.

Jadi, dengan terus berlangsungnya tumbukan-tumbukan lempeng, perlipatan batuan yang terbentuk, baik di permukaan ataupun di dasar laut, masih dapat mengalami patah sewaktu-waktu, bergantung pada elastisitas batuan penyusunnya. Bahkan, patahan yang sudah terbentuk pun masih dapat pula mengalami pergeseran antarbidang patahan, apabila kapasitas batuan penyusunnya dalam menahan gaya dorong atau gaya geser terlampaui oleh besarnya energi penggerak patahan itu.

Mitigasi dalam ketidakpastian

Yang menjadi permasalahan hingga saat ini, dunia ilmu pengetahuan belum berhasil sepenuhnya memprediksi kapan batas elastisitas batuan dapat terlampaui dan kapan suatu patahan dapat bergeser kembali (aktif kembali) sehingga energi yang terakumulasi di dalam batuan yang patah dapat terlepas dan menimbulkan getaran gempa bumi.

Ketidakpastian inilah yang menjadikan tantangan kita dalam memprediksi kapan gempa bumi terjadi. Karena hampir seluruh wilayah Indonesia ini terkepung oleh zona tumbukan lempeng, dan patahan-patahan batuan yang tersebar merata hampir di seluruh wilayah Indonesia (kecuali Pulau Kalimantan relatif paling tidak aktif patahan-patahannya), tidak dapat kita mungkiri, potensi kejadian gempa bumi tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia.

Karena gempa bumi dapat mengakibatkan guncangan yang kuat dan merusak, kita perlu melakukan berbagai upaya untuk mencegah kerusakan, kerugian, dan korban jiwa yang diakibatkan meskipun kita tidak tahu kapan gempa bumi akan terjadi lagi. Inilah konsep dari mitigasi gempa bumi, bukan mencegah gempanya, melainkan mencegah dampaknya yang merugikan dan mematikan. Sebelum 2017, BMKG mencatat rata-rata kejadian gempa bumi ialah 5.000 hingga 6.000 kali dalam 1 tahun, dengan berbagai kekuatan (magnitudo).

Untuk gempa yang dirasakan, atau dengan kekuatan M>5 rata-rata terjadi 335 kali dalam 1 tahun. Namun, sejak 2017 terjadi peningkatan aktivitas kegempaan, yang ditandai dengan kejadian gempa bumi dengan berbagai kekuatan meningkat menjadi 7.500 kali dengan berbagai magnitudo pada 2017. Kemudian, melonjak menjadi 11.920 kali pada 2018, dan masih berada di atas angka 11.000 kali kejadian pada 2019.

Meskipun pada 2020 hanya tercatat 8.264 kali kejadian dengan berbagai magnitudo, angka kejadian pada 2020 yang lalu masih tetap di atas rata-rata tahunan kejadian gempa bumi. Hal inilah yang mendorong BMKG tetap terus memonitor dan mengingatkan seluruh warga masyarakat untuk terus waspada terhadap potensi gempa bumi, yang waktu kejadiannya masih tidak dapat diprediksi.

Gempa bumi Majene-Mamuju

Gempa bumi merusak baru saja terjadi lagi, dengan pusat gempa di Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat, pada 14 Januari 2021 pukul 13.35 WIB dengan kekuatan M = 5,9 dan pada 15 Januari 2021 pukul 01.28 WIB dengan kekuatan M = 6,2 pada episentrum yang kurang lebih sama.

Gempa ini merupakan indikasi aktifnya kembali sistem patahan Makassar Strait (sistem patahan naik Selat Makassar), yang terdiri atas beberapa segmen, antara lain segmen patahan Mamuju, yang saat ini diduga aktif kembali.

Data BMKG mencatat, sebelumnya beberapa gempa bumi di dalam sistem patahan itu juga pernah terjadi, yaitu pada 1969 yang mengakibatkan gempa dengan kekuatan M = 6,9 dan pada 1984 dengan kekuatan M = 7,0. Setelah terjadi pelepasan energi sebagai gempa bumi pada 1969 dan 1984, tampaknya telah terakumulasi kembali energi di dalam sistem patahan Mamuju, atau sistem patahan Makassar, dan saat ini baru saja terlepas kembali melalui beberapa kejadian gempa bumi di lokasi episentrum yang kurang lebih sama, yang kita sebut sebagai gempa Majene-Mamuju, dengan kekuatan M 5,9 dan M 6,2. Hingga 17 Januari 2021 pukul 22.00 Wita ini, telah tercatat 35 kali gempa susulan dengan kekuatan terbesar M = 5.0 Meskipun pusat gempa bumi ini berada di wilayah Kabupaten Majene (sehingga disebut sebagai gempa bumi Majene), karena kondisi batuan/sedimen atau karakteristik lokasi di wilayah Mamuju lebih rentan terhadap getaran gempa itu, intensitas guncangan dan tingkat kerusakan di wilayah Mamuju juga tinggi meskipun jaraknya lebih jauh daripada pusat gempa di Kabupaten Majene.

Terkait dengan kejadian gempa bumi ini, para pakar gempa bumi baik di Indonesia ataupun di Amerika dan Australia telah berkumpul secara virtual bersama BMKG, untuk membahas kejadian gempa itu dan memperkirakan bagaimana potensi perkembangannya. Namun, karena masih terbatasnya data yang dapat terkumpul hingga saat ini, para pakar sepakat bahwa masih perlu dilakukan kajian/penelitian lebih lanjut agar fenomena dan potensi perkembangan gempa bumi ini dapat lebih diperkirakan.

Kajian/penelitan itu masih perlu penyelidikan lanjut dalam waktu yang tidak singkat. Padahal, masyarakat dan pengungsi di Mamuju sudah beberapa hari menunggu dengan penuh kecemasan di dalam tenda serta berharap segera diperoleh kepastian sampai kapan mereka harus bertahan di pengungsian.

Dalam menyikapi hal itu, sambil terus melakukan monitoring dan kajian/penelitian dengan para pakar gempa, BMKG harus segera melakukan langkah cepat untuk mencegah rusak atau robohnya bangunan dan terjadinya longsoran yang dapat menambah jumlah korban jiwa lagi, sebagai akibat dari gempa-gempa susulan.

Sehubungan dengan upaya pengurangan risiko tersebut, kami lakukan perhitungan cepat berdasarkan dua kejadian gempa sebelumnya, pada sistem patahan yang diduga merupakan patahan yang sama, yang mengakibatkan kedua gempa merusak di Majene-Mamuju saat ini, yaitu patahan Mamuju 1969 dengan kekuatan M 6,9 dan pada 1984, dengan kekuatan M = 7.0. Dua skenario telah disiapkan untuk menyikapi ketidakpastian perkembangan gempa bumi di Mamuju ini. Skenario pertama dengan memperkirakan besarnya energi yang terlepas pada saat gempa 1969 dan 1984. Diperkirakan, energi yang tersimpan di dalam massa batuan di sistem patahan Mamuju saat ini belum terlepas sepenuhnya.

Masih menyisakan energi, yang saat ini sedang dalam proses pelepasan sebagai gempa-gempa susulan. Inilah yang menjadi dasar pertimbangan bahwa masih akan terjadi gempa-gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil, atau kurang lebih sama dengan gempa 15 Januari 2021 yang lalu, yaitu sekitar M 6,2. Bahkan, diperkirakan, bahwa gempa susulan itu dapat memicu longsor bawah laut yang berpotensi membangkitkan tsunami cepat dalam waktu kurang dari 5 menit sebagaimana yang terjadi pada 1969 dengan ketinggian tsunami kurang lebih 4 m.

Skenario kedua gempa bumi susulan merupakan gempa dengan kekuatan lebih dari M 6.2, yang diperkirakan merupakan gempa yang bersumber dari segmen patahan yang lain, pada sistem patahan naik Selat Makassar, yang terpicu oleh kejadian gempa saat ini, di patahan Mamuju. Gempa ini, juga dapat berpotensi membangkitkan tsunami.

Potensi multibencana

Sesuai dengan prediksi BMKG, musim hujan saat ini di wilayah Indonesia dipengaruhi beberapa fenomena, yaitu fenomena La Nina yang merupakan fenomena iklim global hasil interaksi laut, dan atmosfer yang terjadi akibat adanya anomali suhu muka air laut di Samudra Pasifik bagian tengah ekuator.

Lalu, fenomena angin monsoon (monsun) Asia yang merupakan angin yang bertiup dari Benua Asia menuju Australia, fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO), yang merupakan fenomena gelombang atmosfer tropis yang bergerak dari Samudra Hindia ke Samudra Pasifik, melintasi Indonesia dengan membawa massa udara basah.

Selanjutnya, fenomena seruak udara dingin (cold surge) yang merupakan aliran udara dingin dari dataran Asia yang menjalar memasuki wilayah Indonesia bagian barat, dan fenomena cuaca lokal yang dipengaruhi kondisi atmosfer dan topografi setempat.

Seluruh atau beberapa fenomena itu dapat terjadi bersamaan sehingga mengakibatkan peningkatan curah hujan yang sangat signifikan. Terutama, dalam periode puncak musim hujan pada Januari dan Februari hampir di seluruh wilayah Indonesia. Dalam puncak musim hujan ini, wilayah Provinsi Sulawesi Barat, selain rawan gempa bumi dan tsunami, saat ini terutama pada Januari hingga Maret diprediksi masih rawan terhadap potensi bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan longsor.

Curah hujan bulanan diprakirakan meningkat hingga 30% di atas normalnya. Bahkan, dapat mencapai 500 mm/bulan. Karena itu, kewaspadaan dan antisipasi terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampaknya perlu lebih ditingkatkan.

Rekomendasi

Berdasarkan analisis dan mengacu pada dua skenario potensi gempa susulan di atas, masyarakat dan pemerintah daerah di daerah terdampak gempa bumi di Mamuju dan sekitarnya diimbau untuk tetap tenang. Namun, tetap mewaspadai gempa bumi susulan yang masih berpotensi cukup kuat dan merusak serta berpotensi tsunami. Selain itu, perlu juga mewaspadai potensi longsor, banjir, dan banjir bandang.

Beberapa langkah yang disarankan, pertama, menyiapkan tempat pengungsian/evakuasi yang aman bagi masyarakat, yaitu tempat pada lahan yang jauh dari bangunan-bangunan yang rawan roboh, ataupun jauh dari lereng yang rawan longsor. Juga, cukup jauh dari pantai yang rawan tsunami serta jauh dari sungai yang rawan banjir.

Kedua, masyarakat yang berada di pantai, apabila merasakan adanya goyangan gempa bumi, diimbau untuk segera menjauhi pantai dan menuju ke tempat yang lebih aman/lebih tinggi. Lalu, masyarakat yang berada/tinggal di/atau dekat bantaran sungai, meskipun tidak terjadi hujan, diminta segera menjauhi sungai bila terlihat sungai tiba-tiba keruh dan menghanyutkan ranting/dahan dari arah hulu yang diiringi dengan kenaikan air.

Ataupun, bila mendapatkan peringatan dini yang disampaikan BMKG melalui BPPD, mobile apps Info BMKG, ataupun berbagai media. Ketiga, menyiapkan jalur evakuasi dari daerah pantai menuju tempat yang lebih aman, serta tempat evakuasi yang memadai dengan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah penyebarluasan virus korona. Keempat, masyarakat agar jangan terpengaruh oleh isu-isu yang menyesatkan tentang gempa bumi dan tsunami dari sumber yang tidak jelas.

Masyarakat diimbau, jika ingin mengetahui informasi gempa bumi, dipersilakan menghubungi posko BMKG yang ada di wilayah Mamuju serta terus memonitor perkembangan informasi dari BMKG yang disampaikan melalui berbagai media. Kelima, untuk jangka panjang, disarankan perlu ditinjau kembali pengaturan tata ruang dengan memperhatikan zona sumber gempa bumi (sesar aktif darat), lebih ketat dalam menerapkan building code bangunan tahan gempa bumi, dan memperhatikan zona rawan banjir dan longsor.

Keenam, perlu terus dilakukan edukasi dan sosialisasi kebencanaan yang berkesinambungan terkait dengan baik potensi bencana gempa bumi dan tsunami maupun bahaya ikutannya, serta potensi bencana hidrometeorologi. Dalam hal itu, BMKG siap untuk terus mendukung program edukasi itu.

Misi BMKG

Perlu disampaikan pula, pada saat ini BMKG telah siap berada di lokasi gempa bumi dengan misi dan tujuan untuk, pertama, melakukan sosialisasi/pendampingan dan literasi langsung kepada masyarakat di lokasi gempa bumi di Kabupaten Mamuju.

Kedua, menambah pemasangan peralatan monitoring gempa, serta melakukan survei dan pengukuran di lapangan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

Ketiga, mengomunikasikan dan mengoordinasikan poin pertama dan kedua di atas dengan Pemerintah Kabupaten Mamuju-Kabupaten Majene dan Provinsi Sulawesi Barat, untuk mendukung proses penanganan dan pemulihan, serta mengantisipasi fenomena lanjut yang masih mungkin terjadi.

Semoga dengan langkah-langkah di atas, ketidakpastian kejadian gempa bumi dan kompleksitas adanya multirisiko bencana ini dapat disikapi dengan tepat untuk mencegah bertambahnya korban jiwa.

sumber : Media Indonesia

Avatar
About Author

Ryand Saputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *