Bang Japrak: Hoaks Pejabat Era Now, Luhut Nantang Rizal Ramli Debat Soal Ekonomi Indonesia (HS)

Menagih Janji Debat Luhut dan Rizal, Jangan Hanya Berani Adukan Said!

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JARINGAN INDONESIA – Dalam suatu kesempatan, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan meminta adu debat agar pengkritik utang pemerintah untuk menemui dirinya. Dia pun meminta agar hal itu tidak hanya dibicarakan di media sosial saja. “Jadi kalau ada yang mengkritik kita, kita juga pingin ketemu orangnya. Jadi jangan di media sosial aja,” katanya dalam webinar, Selasa lalu (2/6/2020).

Gayung bersambut, tantangan tersebut direspons oleh Ekonom senior Rizal Ramli yang pernah bersama Luhut menjadi Menteri saat Gus Dur berkuasa. Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman tersebut bersedia menjawab tantangan koleganya. Tak hanya dengan Luhut, ia bahkan mengaku siap berdebat dengan Sri Mulyani dan Airlangga.

Hal tersebut disampaikan Koordinator Gerakan Indonesia Bersih (GIB) Adhie Massardi sebagai jurubicara dalam jumpa pers di bilangan Tebet, Jakarta, Rabu (10/5). Kata dia, Rizal Ramli mengusulkan adanya punishment agar debat menjadi lebih serius realisasinya. Mantan Menko Maritim Jokowi itu berjanji tidak akan lagi mengeritik pemerintah jika kalah dalam debat nantinya. Namun jika menang kata dia, semua tim ekonomi Pemerintahan Presiden Jokowi harus mundur dari jabatannya. “Kalau RR menang, dia minta semua tim ekonomi mundur semua,” katanya.

Apa urgensinya melakukan debat ditengah pandemi corona ?, Apakah substansi debat soal utang memang layak untuk dipersoalkan  dan publik berhak mengetahuinya ?, Bukankah tantangan debat seperti ini pernah dilontarkan Menteri Keuangan Sri Mulyani tapi tidak ada realisasinya ? Mengapa debat kali ini sulit mendapatkan  kesepakatan waktu dan tempat penyelenggaraannya ?

Debat soal utang kali ini dirasa penting supaya masyarakat menjadi tahu seperti apa sebenarnya posisi utang Indonesia yang jumlahnya kini sudah luar biasa besarnya. Dengan adanya debat ini setidaknya pemerintah bisa menjelaskan kebijakan utang yang selama ini dilakukannya.

Sejauh ini data Bank Indonesia (BI) menunjukkan sampai Februari 2018, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai US$352,2 miliar. Dengan kurs BI hari ini (8/5) yang Rp14.036/US$, maka utang itu senilai Rp4.943 triliun lebih atau hampir Rp5.000 triliun jumlanya.

Menko Luhut Panjaitan beserta  Menkeu dan jajarannya ngotot berpendapat angka hampir Rp5.000 triliun masih tetap aman dan tidak ada masalah yang perlu dirisaukannya. Karena utang menurut Pemerintah merupakan bagian tak terpisahkan dari struktur APBN secara keseluruhan.  Utang juga kebijakan yang diambil sebagai konsekuensi dari defisit karena belanja lebih besar dari penghasilan negara.Utang menjadi alternatif pembiayaan yang juga memerlukan persetujuan dari DPR melalui Badan Anggaran Negara. 

Alasan mengapa harus ngutang seperti biasa, mereka menjadikan rasio utang dan PDB yang angkanya masih jauh dari 60% sebagai patokannya. Pemerintah melalui Menteri Keuangan Sri Mulyani pernah  sesumbar agar Indonesia tidak perlu takut membuat utang baru karena Indonesia punya sumber daya alam yang berlimpah-ruah yang bisa digunakan untuk membayar utang.

Sementara para pengamat ekonomi seperti Rizal Ramli mengkritisi, bahwa menisbahkan utang dengan PDB bukan cuma tidak pas, tapi malah sesat dan menyesatkan. Semestinya, mengukur utang harus dinisbatkan dengan kemampuan sebuah negara dalam membayar utang, atau debt to service ratio (DSR). Tidak menggunakan patokan versi junjungan asingnya yang melenakan dan menyesatkan yaitu PDB.

Bagaimana tidak melenakan, kalau seriap saat rakyat benaknya dipompa dengan anggapan utang masih aman karena rasionnya masih jauh dari 60% PDB? Tanpa disadari, tahu-tahu Indonesia sudah masuk debt trap, sehingga harus gali lubang tutup lobang.

Rizal Ramli pernah menyampaikan pandangannya melalui akun Facebook miliknya,  di mana disebut utang Indonesia sudah lampu kuning. Dia mengibaratkan pengelolaan utang Indonesia gali lubang tutup jurang karena primary balance negatif, debt to service ratio (rasio utang terhadap pendapatan) sudah 39 persen, dan tax ratio hanya 10 persen.

“Pengelolaan fiskal tidak prudent (ugal2an) trade account, service account, dan current account semuanya negatif. Di samping faktor US Fed Rate, itulah salah alasan utama kenapa kurs Rupiah terus anjlok! Kok bisa ngaku2 kelola makro ekonomi hati2 (prudent)?? Bokis amat,” demikian sebagian status Rizal di Facebook. [law-justice]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719