Jika Rakyat Terus Gugat Salah Kelola Negara, Bukan Mustahil Tahun Ini Jokowi Lengser?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JARINGAN INDONESIA – Pemerintah mengkambinghitamkan wabah virus corona atas kegagalan pertumbuhan ekonomi di tanah air. Menteri Keuangan Sri Mulyani bahkan berkilah bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa anjlok ke angka 4,7-5% gara-gara dampak virus corona yang juga menggerogoti perekonomian Cina.

Prediksi Sandiaga Uno bahkan lebih parah. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi bisa anjlok ke level 4,5-4,3% tergantung perkembangan dari virus corona. Jika prediksi Sandiaga Uno benar, maka tahun 2020 akan menjadi level pertumbuhan ekonomi terendah sejak 18 tahun terakhir.

Meski begitu perlu dipahami bahwa jauh sebelum wabah virus corona, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang sudah nyungsep gara-gara salah kelola. Sehingga banyak ekonom yang mengibaratkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini selayak gelembung (buble) yang terus menggelembung dan rentan untuk meledak.

Gelembung itu terbentuk akibat situasi makro ekonomi, gagal bayar, daya beli, digital bizz, dan nasib petani. Gelembung ini bisa meletus karena tidak mendapat dukungan fundamental yang kuat. Muaranya, krisis hebat bisa kembali menghantam Indonesia.

Di lain sisi, beban hidup masyarakat semakin berat. Hal ini disebabkan oleh meroketnya harga kebutuhan pokok, kenaikan dan perluasan objek pajak, hingga kenaikan berbagai iuran. Tragisnya, pendapatan masayarakat justru stagnan. Muaranya, daya beli masyarakat nyungsep.

Pemerintah cuma bisa memberikan janji-janji untuk menenangkan publik. Faktanya, janji itu tidak terealisasi akibat defisit sumber daya pemerintah dan salah kelola kebijakan.

Publik pun melawan. Dulu kita pikir gerakan rakyat itu sudah lumpuh. Tapi aksi penolakan RUU KPK tempo hari yang menguncang kota-kota besar di seantero Indonesia membuat pemerintah tercengang.

Sejak Jokowi dan Ma’ruf Amin dilantik, setiap hari netizen kompak mengkritik pemerintah. Saking kompaknya, setiap hari selalu saja ada trending topik Twitter yang bernuansa kemarahan publik pada pemerintah. Hari ini gerakan rakyat meluap-luap lagi dipicu oleh omnibus law RUU Cipta Kerja yang diinisiasi oleh pemerintah.

Kalau mau jujur pemerintahan Jokowi hari ini sudah ibarat smarphone buatan Cina yang selalu men-download aplikasi (janji untuk menenangkan rakyat). Padahal kapasitas memori dan baterenya tidak mencukupi. Akibatnya, baterai lekas nge-drop/lowbat (janji tidak terpenuhi) dan ponsel bisa “hang” (rakyat menggugat pemerintah).

Karena itu, prediksi pemerintahan Jokowi bakal jatuh tahun 2020 ini bukan isapan jempol. Pasalnya, tantangan pemerintah di hari-hari ke depan makin berat. Nahasnya, sumber daya pemerintah justru makin susut.

Jika pemerintah tidak bisa menjawab kegelisahan rakyat, tentu perlawanan akan membesar. Tidak mustahil, kegelisahan rakyat bisa bergeser dari kekecewaan terhadap kebijakan menjadi ketidakpercayaan pada pemerintah. Hilirnya adalah keinginan untuk mengganti pemerintah.

Kegelisahan rakyat ini bukan omong kosong. Tahun lalu, Morales menjadi kepala pemerintah kelima yang jatuh. Sebelumnya ada Presiden Jovenel Moïse di Haiti, Presiden Al-Bashir di Sudan dan Perdana Menteri Saad Hariri di Lebanon. Di Aljazair, Perdana Menteri Ahmed Ouyahia dan Presiden Abdelaziz Bouteflika serempak mundur. Presiden Argentina Mauricio Macri gagal terpilih kembali. (politiktoday.com)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719