Ironi Kemiskinan Di Luwu, Hidup Memprihatinkan Tanpa Listrik Dan Bantuan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

LUWU, JARINGAN INDONESIA – Tahang (70) warga Dusun Padang Lobo, Desa Padang Tujuh, Kecamatan Bupon, Kabupaten Luwu ini, hidup dengan kondisi memprihatinkan.

Di sebuah rumah panggung kayu berukuran kecil beratapkan seng bekas dan berdinding papan yang sudah lapuk, tanpa listrik dan hanya mengandalkan pelita sebagai penerangan serta tanah yang dia tempati pun juga masih milik orang lain.

Setiap hari Tahang menghabiskan waktu bersama istrinya Nursia menjadi tukang kebun jagung milik orang lain yang hasilnya akan dibagi dua dengan pemilik lahan. Guna menyambung hidup, beliau pun kerja sampingan membantu jualan cakar di pasar noling dengan upah Rp. 15.000, kadang buat beli ikan atau kebutuhan lain, bersama istrinya dirumah.

Saat di temui di kediamannya. Minggu, (9/2/2020) Bapak Tahang menuturkan keluh kesah yang dideritanya selama ini.

Sejak tinggal di tempat itu, hidup tanpa listrik kerena keterbatasan biaya, hingga ia pun harus membanting tulang demi menafkahi istrinya.

Ironi Kemiskinan Di Luwu, Hidup Memprihatinkan Tanpa Listrik Dan Bantuan 2

“Ini kebun jagung punya orang lain, saya hanya sebagai tukang kebun dan hasilnya di bagi dua dengan pemilik lahan. Kalau hari pasar saya bantu orang jualan cakar, jarak pasar lumayan jauh, cuman naik sepeda tua dan harus melewati jalan yang berbatu dan menyeberang sungai”, Tuturnya.

Ironi Kemiskinan Di Luwu, Hidup Memprihatinkan Tanpa Listrik Dan Bantuan 3

“Pernah selama dua hari saya dan istri hanya makan sayur karena beras untuk dibuat nasi sudah habis dan tidak punya uang buat beli. Saat hujan kami tidak bisa tidur karena air masuk dalam rumah dan semuanya basah, nanti hujan reda baru bisa tidur”, Ucap Tahang sambil meneteskan air mata.

Belum tersentuh bantuan

Saat ini dirinya belum mendapatkan raskin dari pemerintah setempat dan sekiranya ada yang bisa membantu, beliau berterima kasih sekali, karena Bapak Tahang dan istrinya butuh uluran tangan dari semua pihak.

“Kartu PKH pernah saya dapat tapi tidak pernah di fungsikan karena pertama lambatnya kartu tersebut saya terima dari pemerintah Desa setempat, yang kedua saya tidak tahu cara penggunaannya” Tandasnya.

(ZR/JI/rls.)

Sumber : dhy/ teropongsulseljaya.com

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719