Hingga Akhir Hidupnya, Sultan Hasanuddin Tetap Tolak Bekerjasama Belanda

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Sultan Hasanuddin adalah Raja Gowa ke-16 dan pahlawan nasional Indonesia yang terlahir dengan nama I Mallombasi Muhammad Bakir Daeng Mattawang Karaeng Bonto Mangepe.

Sultan Hasanuddin lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 12 Januari 1631, meninggal di Makassar, 12 Juni 1670 pada umur 39 tahun.

Gelar Sultan Hasanuddin Tumenanga Ri Balla Pangkana, ia peroleh setelah memeluk agama Islam, namun ia lebih dikenal dengan nama Sultan Hasanuddin saja.

Sultan Hasanuddin dijjuluki sebagai Ayam Jantan dari Timur oleh penjajah Belanda, dalam bahasa Belanda sendiri disebut de Haav van de Oesten karena keberaniannya melawan penjajah. Ia diangkat menjadi Sultan ke-6 Kerajaan Gowa dalam usia 24 tahun (tahun 1655).

Beliau merupakan putera kedua dari Sultan Malikussaid, Raja Gowa ke-15. Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, ketika Belanda yang diwakili Kompeni sedang berusaha menguasai perdagangan rempah-rempah.

Gowa merupakan kerajaan besar di wilayah timur Indonesia yang menguasai jalur perdagangan. Pada tahun 1666, di bawah pimpinan Laksamana Cornelis Speelman, Kompeni berusaha menundukkan kerajaan-kerajaan kecil, tetapi belum berhasil menundukkan Gowa.

Di lain pihak, setelah Sultan Hasanuddin naik takhta, ia berusaha menggabungkan kekuatan kerajaan-kerajaan kecil di Indonesia bagian timur untuk melawan Kompeni. Peperangan antara VOC dan Kerajaan Gowa (Sultan Hasanuddin) terjadi pada tahun 1660.

Saat itu, Belanda dibantu oleh Kerajaan Bone yang merupakan kerajaan taklukan dari Kerajaan Gowa.

Pada peperangan tersebut, Panglima Bone, Tobala akhirnya tewas, tetapi Aru Palaka berhasil meloloskan diri dan perang tersebut berakhir dengan perdamaian.

Akan tetapi, perjanjian damai tersebut tidak berlangsung lama karena Sultan Hasanuddin yang merasa dirugikan kemudian menyerang dan merompak dua kapal Belanda, yaitu de Walvis dan Leeuwin. Belanda pun marah besar.

Lalu Belanda mengirimkan armada perang yang besar, dipimpin oleh Cornelis Speelman.

Aru Palaka, penguasa Kerajaan Bone juga ikut menyerang Kerajaan Advertisement Gowa.

Sultan Hasanuddin akhirnya terdesak dan sepakat untuk menandatangani perjanjian paling terkenal yaitu Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667 silam.

Pada 12 April 1668, Sultan Hasanuddin kembali melakukan serangan terhadap Belanda. Namun karena Belanda sudah kuat maka Benteng Sombaopu yang merupakan pertahanan terakhir Kerajaan Gowa berhasil dikuasai Belanda. Reruntuhan Benteng Somba Opu.

Hingga akhir hidupnya, Sultan Hasanuddin tetap tidak mau bekerjasama dengan Belanda. Sultan Hasanuddin kemudian mengundurkan diri dari takhta kerajaan dan wafat pada tanggal 12 Juni 1670. ** (suara.asia)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719