China Jual Alat Tes COVID-19 Palsu Ke Spanyol dan Republik Ceko? Berikut Klarifikasinya

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram
Menurut Spanyol, alat uji itu hanya memiliki tingkat akurasi 30%.

JARINGAN INDONESIA – Ketika China mulai mengalami perlambatan jumlah kasus virus corona (COVID-19), di belahan negara lain kini semakin menunjukkan peningkatan kasus.

Atas keberhasilannya mengendalikan kasus COVID-19 di negaranya saat ini, China berbagi keahlian dan menyumbangkan atau menjual alat tes virus corona di seluruh dunia. Tetapi, kepercayaan itu berubah menjadi keraguan ketika Spanyol dan Republik Ceko mengeluhkan bahwa alat tes COVID-19 yang mereka terima dari negara itu palsu dan salah.

Melansir Elite Readers, otoritas kesehatan Spanyol baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan mengirim kembali batch pertama kit pengujian virus corona yang mereka beli dari China setelah hasilnya hanya menghasilkan tingkat akurasi 30%.

Spanyol sekarang memiliki jumlah kasus infeksi virus corona sebanyak lebih dari 80.000 orang, dan lebih dari 6.800 orang meninggal dunia. Angka kematian di Spanyol menjadi yang tertinggi kedua di dunia setelah Italia sampai hari ini, Senin, 30 Maret 2020.

Lonjakan kasus COVID-19 yang signifikan, menurut mereka, mungkin diduga terkait dengan alat test yang salah alias tidak akurat yang mereka gunakan.

Kedutaan China di Spanyol segera membantahnya. Mereka mengatakan bahwa alat uji yang salah itu bukan berasal dari kesepakatan 423 juta euro yang telah ditandatangani kedua negara — rekan untuk pembelian 5,5 juta test kit. Kedutaan menekankan bahwa alat tes virus corona yang tidak akurat itu adalah berasal dari perusahaan penyedia yang tidak berlisensi bernama Shenzhen Bioeasy Biotechnology.

China juga mengklarifikasi bahwa perusahaan tersebut tidak pernah ada dalam daftar penyedia bersertifikat yang mereka tawarkan ke Spanyol dengan kesepakatannya dan bahwa Shenzhen Bioeasy tidak memiliki lisensi untuk menjual produk mereka.

Spanyol telah memesan 340.000 alat uji virus corona dari perusahaan itu.

Sementara itu, Republik Ceko juga mengeluh bahwa 80 persen dari 150.000 alat uji virus corona yang mereka terima dari China menghasilkan hasil tes yang salah. Ceko membeli alat tes itu seharga 568 ribu dolar AS dan barang itu tiba di Praha dari Shenzhen, China, pada 18 Maret 2020 lalu. Pihak berwenang mengatakan bahwa sebanyak 100.000 kit dibayar oleh kementerian kesehatan, sementara 50.000 lainnya dibayar oleh kementerian dalam negeri Ceko.

Namun, Wakil Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Ceko, Jan Hamacek meremehkan penemuan tersebut. Dia mengatakan hasil yang salah adalah karena “kemungkinan metodologi yang salah.” Ia menambahkan bahwa alat tes masih dapat digunakan dalam dua kasus — ketika virus “telah ada selama beberapa waktu” atau ketika seseorang menyelesaikan karantina 14 hari.

“Menurut pendapat saya, ini bukan tentang skandal memalukan tapi bahwa itu tidak berfungsi,” kata Hamacek. [cakapcakap.com]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719