Eva Arifah Aliyah, Kepala Kantor Bea Cukai Makassar

Bea Cukai Makassar: Produk Ekspor Pertanian dan Perikanan Sulsel Tetap Perkasa

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JARINGAN INDONESIA – Pandemi SARS-Cov-2 atau yang lebih sering disebut pandemi Virus Corona telah melanda dunia sepanjang tahun 2020 ini. Hampir semua sektor terkena imbas negatif termasuk kinerja ekspor di Sulawesi Selatan.

Berdasarkan himpunan data dari Bea Cukai Makassar, raihan devisa dari kegiatan ekspor sepanjang tahun 2020 terus menunjukkan angka negatif setiap bulannya, jika dibandingkan dengan data tahun 2019 lalu.

Dikutip dari situs Badan Pusat Statistik (BPS) hingga akhir bulan Agustus tahun 2020 secara kumulatif devisa ekspor nasional turun 6,51% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Untuk Sulawesi Selatan sendiri, berdasarkan data kegiatan ekspor yang melalui Kantor Bea Cukai Makassar, devisa ekspor hingga akhir bulan Agustus 2020 tercatat sebesar USD 463.908.541 (Rp6.909.917.718.195) atau menurun sekitar 11,6% dibandingkan perolehan per akhir bulan Agustus tahun 2019 yang mencapai USD 525.184.623 (Rp7.822.624.959.585).

Persentase penurunan nilai devisa ekspor yang mencapai dua digit merupakan imbas dari pemberlakuan lockdown di sejumlah negara dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sejumlah kota di Indonesia sehingga menghambat aktivitas bisnis, termasuk ekspor impor.

Pentupan penerbangan internasional ke dan dari bandara Hasanuddin ikut memangkas aktivitas para eksportir. Pengiriman ekspor kini lebih banyak dilakukan melalui Pelabuhan Soekarno Hatta atau dikirim dengan menggunakan pesawat domestik untuk selanjutnya dikirim melalui bandara internasional lainnya.

Dari segi penerimaan negara di bidang ekspor, total pungutan bea keluar di Bea Cukai Makassar sedikit menurun, namun cenderung stabil dan terkendali. Data penerimaan Kantor Bea Cukai Makassar per tanggal 31 Agustus 2020 menunjukkan penerimaan bea keluar sebesar Rp13.446.722.000, hanya terpaut selisih 2% atau sebesar Rp294.044.000 jika dibandingkan akumulasi jumlah penerimaan tahun lalu untuk periode yang sama. Penerimaan bea keluar sebagian besar diperoleh dari beberapa perusahaan berbasis ekspor yang mengekspor biji cokelat.

Namun demikian terdapat sejumlah catatan positif yang menggembirakan, dimana sektor pertanian justru menunjukkan peningkatan devisa ekspor yang cukup signifikan. Komoditi-komoditi ekspor andalan Sulawesi Selatan selain cokelat, ada juga seperti cengkeh, kelapa dan lain-lain. Hingga akhir Agustus 2020, ekspor cengkeh telah membukukan devisa sebesar USD 4,9 Juta, meningkat dua kali lipat dibanding jumlah ekspor per akhir tahun lalu yang hanya sebesar USD 1,7 juta.

Kemudian, beberapa olahan buah kelapa seperti coconut oil atau lebih dikenal dengan Extra Virgin Coconut Oil (EVCO) yang juga telah menyumbang devisa sebesar USD 1,5 juta, hampir dua kali lipat dibanding akumulasi sumbangan devisa tahun lalu. Peningkatan paling signifikan atas olahan buah kelapa adalah dari produk kopra yang seolah bangkit kembali dengan catatan devisa per Agustus 2020 sebesar USD 121.472, angka ini adalah hampir tujuh kali lipat lebih banyak dari angka devisa kopra sepanjang tahun lalu. Selain kopra, olahan buah kelapa lainnya yang juga mengalami tren positif adalah briket arang dari batok buah kelapa.

Untuk komoditas tanaman porang (conjac) yang masih tergolong baru dikalangan para petani juga terus menunjukkan tren positif, dengan capaian devisa sebesar USD 1,9 Juta per Agustus 2020 yang mana telah melampaui akumulasi devisa tahun 2019.

Sejalan dengan sektor pertanian, devisa ekspor produk perikanan juga meningkat cukup drastis. Seolah tak terimbas oleh pandemi corona, per Agustus 2020 jenis komoditi ini melalui produk fresh grouper fish, fresh red snapper, dan fresh king fish telah mencatatkan devisa sebesar USD 38,3 juta, meningkat 225% dari catatan devisa tahun lalu yang hanya sebesar USD 17 juta.  

“Komoditi pertanian dan perikanan memiliki potensi yang sangat besar untuk dikembangkan menjadi penghasil devisa utama Sulawesi Selatan. Kedua sektor ini terbukti tahan dan kebal terhadap kondisi pandemi. Semoga kedepan akan muncul lebih banyak industri di bidang pertanian dan perikanan supaya produk ekspor kita memiliki nilai tambah lebih tinggi lagi,” papar Kepala Kantor Bea Cukai Makassar, Eva Arifah Aliyah.

Komoditas-komoditas di atas tersebut menunjukkan tren positif di tengah pandemi walaupun belum menjadi komoditas penghasil devisa terbesar. Adapun komoditas penghasil devisa terbesar untuk Sulawesi Selatan sejak beberapa tahun terakhir masih bertumpu pada komoditi rumput laut dan olahannya, ferro nickel dan olahan biji cokelat. Bahan baku ketiga komoditas ini tersedia melimpah dan telah diolah oleh perusahaan skala internasional. (*)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719