Foto/NET

Banjir Bandang Luwu Utara: Faktor Alam atau Manusia?

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

JARINGAN INDONESIA – Banjir bandang yang terjadi pada Senin lalu (13/07) berdampak di enam kecamatan yaitu Kecamatan Masamba, Sabbang, Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke dan Malangke Barat.

Banjir Bandang Masamba, Luwu Utara, Sulawesi Selatan, mengakibatkan 30 orang meninggal hingga Kamis kemarin. Ada beberapa faktor yang menyebabkan banjir itu.

Universitas Hasanuddin sejak 2019 lalu telah memprediksi potensi bencana alam di Luwu Utara melalui kajian akademisi.

Pegiat Lingkungan mengatakan keadaan ini diperparah dengan adanya praktik penebangan hutan dan pembukaan lahan-lahan perkebunan sawit.

Dilansir bbc.com Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, menampik tudingan pemerhati lingkungan soal pembabatan hutan, perluasan kawasan pertambangan, dan pembukaan lahan baru di hulu sungai.

Indah menegaskan bahwa yang terjadi di Luwu Utara adalah murni bencana.

Sedangkan berdasarkan hasil analisis sementara Direktorat Jenderal Pengendalian DAS dan Hutan Lindung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mengatakan  “Dua faktor penyebab banjir bandang Masamba Luwu Utara, yakni alam dan manusia,” ucap Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Raditya Jati dalam keterangannya,  Jumat (17/7/2020)

Dilansir  detik.com Raditya Jati menjelaskan salah satunya faktor cuaca. Curah hujan dengan intensitas tinggi di daerah aliran sungai (DAS) Balease menjadi salah satu pemicu banjir bandang tersebut.

Termonitor curah hujan lebih dari 100 mm per hari serta kemiringan lereng di bagian hulu DAS Balease sangat curam. Desa Balebo yang dilewati DAS ini berada pada kemiringan lebih dari 45 persen.

“Selain faktor cuaca, kondisi tanah berkontribusi terhadap terjadinya luncuran material air dan lumpur. Jenis tanah distropepts atau inceptisols memiliki karakteristik tanah dan batuan di lereng yang curam mudah longsor, yang selanjutnya membentuk bending alami atau tidak stabil. Kondisi ini mudah jebol apabila ada akumulasi debit air tinggi,” ujarnya.

Lalu, dia mengatakan, faktor alam yang terakhir bahwa daerah tangkapan air (DTA) banjir di Desa Balebo, Kecamatan Masamba, berada pada kategori banjir limpasan tinggi sampai ekstrem. Sedangkan DTA banjir di Desa Radda, Kecamatan Baebunta, dan Desa Malangke, Kecamatan Malangke, sebagian besar berada pada kategori banjir genangan tinggi.

“Sedangkan faktor manusia, terpantau di lokasi adanya pembukaan lahan di daerah hulu DAS Balease dan penggunaan lahan massif perkebunan kelapa sawit. Terkait dengan pembukaan lahan ini, salah satu rekomendasi dari KLHK, yakni pemulihan lahan terbuka di daerah hulu,” paparnya.

Untuk melancarkan upaya penanganan korban bencana, Indah menetapkan status tanggap darurat selama 30 hari, terhitung dari 14 Juli hingga 12 Agustus 2020. (aas/ji)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719