Presiden Joko Widodo - [ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan]

Cara Jokowi Tangani Corona Amatiran

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Saya heran dengan cara penanganan corona di Indonesia.

JARINGAN INDONESIA – “Bukan tidak menghargai upaya pemerintah, tapi saya lebih melihat cara amatiran begini harusnya bukan dilakukan oleh level negara” Ungkap Hasmi Bakhtiar di akun Twitternya.

Kalau amatir begini dilakukan oleh level yayasan masih bisa kita maklumi, tapi ini negara dengan semua perangkatnya.

Dengan uang ribuan triliun dan wewenang sebesar gunung uhud, tapi masih amatir dan abal abal. Itu maksudnya apa? Mau bunuh massal rakyat?

Lockdown adalah satu satunya cara efektif saat ini, tapi pemerintah masih bandel dan masih menangani corona dengan apa adanya.

Buat apa beli alat tes corona sampe 500ribu unit? Apakah tes corona massal jadi solusi? Apakah ada negara lain yang borong alat tes corona kayak kita?

Kalau tes corona sudah dilakukan tapi belum juga lockdown, belum juga dibatasi ketat orang masuk dan interaksi. Lalu buat apa cuma tes doang?

Kalau pun sudah di tes lalu sudah jelas korbannya, apakah kita mampu mengurus korbannya? Apakah ranjang rumah sakit ICU kita cukup? Dokter kita memadai? Rumah sakit kita siap kalau korban terus meningkat?

Masalah utama nya negara masih bebas keluar masuk dan masih bebas berkeliaran di tempat tempat ramai dan penyebaran semakin hari semakin meluas. Solusinya apa? Tes corona melulu? Buat apa? Sedangkan masalah utamanya gak selesai.

Udah begitu, alat tes corona juga gak gratis harus dibeli oleh rumah sakit kepada pemerintah, kan dodol banget ini logikanya.

Kalau saja tes corona bisa jadi solusi, kenapa banyak negara Eropa justru tetap ngotot lockdown dan menghabiskan dana ratusan miliar euro untuk membatasi penyebaran virus ini? Kenapa dia gak beli aja alat tes dari Cina kayak kita.

Soal Korsel yang gak lockdown itu gak usah anda bandingkan Korsel dengan kita, gak apple to apple. Korsel sudah punya begitu banyak fasilitas canggih gak kayak kita yang masih ada kampung mirip2 afrika di NKRI ini. Ini pemerintah kayak menikmati kedunguan berjamaah.

Kemenlu buat apa hanya membatasi visa 1 bulan? Pede amat anda ini. Habis pidato batasi visa. 49 warga cina masuk via kendari lewat depan mata pemerintah. Apa gak saraf itu kebijakan asal bunyi yang tanpa eksekusi?

Fasilitas kesehatan kita masih sangat memprihatinkan tapi pede kita setinggi langit. Pede karena bodoh luar biasa.

Italia saja yang fasilitas kesehatannya salah satu yang terbaik di eropa, sekarang frustasi dengan korban ratusan yang mati setiap hari. Kita masih sok jago padahal semua sisi kita masih sangat lemah.

Udah rakyatnya bandel dan ngeyel masih ngotot ngumpul dan masih berdebat soal keputusan MUI ditambah Pemerintah juga bandel dan gak mau tegas soal lockdown. Mau jadi apa negeri ini dua bulan kedepan?

Kalau yang mati itu hanya yang bandel dan ngeyel baik rakyat atau penguasa, itu mudah urusannya tinggal dikuburin. Tapi ini virus bukan kayak ayam yang kelihatan pergerakannya.

Ini Anda masih ngumpul sama orang lain dan membahayakan banyak jiwa selain anda. Disitu masalahnya kenapa negara harus hadir menertibkan kebandelan orang orang bodoh yang tetiba jadi mufti semua.

Tapi gimana pemerintah mau menertibkannya kalau pemerintah juga sama amatirnya dalam melihat dan menangani masalah ini? Ini bersekutu dalam kebatilan namanya. [news.onlinindo.tv, jaringanindonesia.com]

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719