Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyampaikan konferensi pers terkait virus corona di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (2/3/2020). ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/foc.

Chaos Informasi dari Jokowi soal Korban Meninggal karena Corona

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Jokowi pernah melihat satu orang meninggal karena Corona saat data menunjukkan sebenarnya hanya satu.

JARINGAN INDONESIA – Pada Jumat (13/3/201) pekan lalu, siang jelang sore, Presiden Joko Widodo mengatakan ada “34 kasus [Corona COVID-19] telah terkonfirmasi di Indonesia.” Ia juga mengatakan “dua pasien meninggal dunia.

“Pernyataan Jokowi ini semestinya keputusan data per Rabu (11/3/2020), karena pada Kamis (12/3/2020), juru bicara pemerintah untuk menangani Corona Achmad Yurianto mengatakan“ tidak ada ”yang mendukung penelitian positif yang diterima.

Masalahnya, dalam data per 11 Maret, jumlah korban meninggal karena positif Corona bukan dua seperti halnya Jokowi, tapi satu. Ia adalah seorang perempuan WNA perempuan yang berumur 53 tahun, disebut ‘kasus ke-25’. Kasus ke-25 diumumkan meninggal pada 10 Maret. Ia meninggal saat dibahas di RSUP Sanglah, Bali. Jokowi sendiri tidak menyebut nomor kasus dua orang meninggal itu.

Beberapa jam setelah Jokowi menyebut “dua pasien meninggal dunia,” Achmad Yurianto kembali menggelar konferensi pers. Ia menyebut total pasien positif mencapai 69, tiga di balik meninggal dunia: kasus ke-35, 36, dan 50.

Apabila merujuk ke pernyataan Jokowi, semestinya jumlah pasien meninggal itu lima orang per 13 Maret malam. Namun Yuri menegaskan yang meninggal ada empat.

Yuri bingung menjawab pertanyaan reporter Tirto soal korban yang disebut Jokowi. “Pertanyaan jelas, tapi saya bingung jawabnya,” katanya, kemarin (15/3/2020).

Ia lantas mengatakan saat itu Jokowi belum menggunakan data terbaru. Namun jika benar begitu, semestinya yang Jokowi sebut satu korban meninggal, bukan dua, sebagaimana data per 11 Maret. Yuri tak mau ambil pusing dengan perbedaan tersebut. “Benerin saja, ya sudah,” katanya. Maksudnya, meminta kami menggunakan data yang ia paparkan pada 13 Maret sore–69 kasus dan meninggal empat orang. Dengan kata lain, menganulir pernyataan Jokowi.

Meski jelas ada yang keliru, ia menegaskan tidak ada kesalahan data yang diberikan timnya ke Jokowi. “Ngapain ada miskomunikasi?” katanya.

Buruk Koordinasi, Bahaya untuk Publik

Pemerintah memang terlihat gagap dan buruk dalam berkoordinasi dalam menangani Corona. Selain ‘salah data’ seperti kasus di atas, ada pula kasus lain yang lebih fatal.

Pada 3 Maret lalu Yuri mengatakan ada seorang pasien di Cianjur, Jawa Barat, meninggal dunia “bukan karena COVID-19” meski ia berstatus suspect. Pasien tersebut berinisial D (50), seorang warga Bekasi yang menjalani perawatan di ruang isolasi Rumah Sakit Dr Hafidz (RSDH) Cianjur.

Namun pada Minggu kemarin, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan bahwa pasien tersebut dinyatakan positif terjangkit Corona. “Data terakhir, kami terima pasien positif,” kata RK.

Istri dan anak D juga kini dipastikan positif Corona.

Yuri mengatakan perbedaan status pasien tersebut dapat terjadi karena pemeriksaan itu “butuh proses, tidak kemudian sekali datang langsung positif.” Pasien dinyatakan positif dalam uji kedua, saat yang bersangkutan telah meninggal.

Dengan kata lain, pemerintah sendiri yang menyimpulkan dia negatif saat sebetulnya belum benar-benar dapat dipastikan.

Bagi pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah, kasus-kasus di atas hanya membuktikan “buruknya koordinasi, baik dari tim pemerintah maupun Presiden. Jadi informasinya berbeda-beda.

“Reporter Kepada Tirto, Senin (16/3/2020), mengatakan pada akhirnya yang dirugikan dari kesemrawutan ini adalah publik. “Nanti dampaknya ke panik beli, terus ada penimbun topeng, sembako, dan lainnya. Ini bahaya.” Jika ini dibiarkan, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah bisa berkurang.

“Bagaimana caranya untuk menenangkan masyarakat? Transparansi informasi, meningkatkan koordinasi, “katanya.” Ke depan, pemerintah perlu mengambil kebijakan yang tidak parsial, “pungkasnya.

Per Minggu kemarin, jumlah pasien positif Corona mencapai 117 orang. Salah satu yang dinyatakan positif adalah Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi. (tirto.id)

Komunikasi pemerintah saat mengeluarkan Corona memang buruk

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719