3 Fenomena Langit Di Bulan April

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Indra Dahfaldi

JARINGAN INDONESIA – Ada 3 fenomena langit yang akan terjadi di bulan April 2020.  Menurut Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) seperti dilansir Kompas.com ketiganya adalah bulan purnama atau supermoon, hujan meteor Lyrids, dan bulan baru. Apa sih itu? Berikut penjelasannya.

Supermoon

Astronot amatir baru Marufin Sudibyo mengatakan supermoon memiliki nama resmi Bulan Purnama Perigean. Artinya bulan yang berada pada jarak terdekat bumi, saat fasenya sangat berdekatan dengan purnama. Dia melanjutkan, di 2020 hanya ada 3 kesempatan supermoon, salah satunya pada Rabu, 8 April 2020 mendatang.

3 Fenomena Langit Di Bulan April 2Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin mengatakan supermoon bisa dilihat di seluruh dunia, termasuk langit Indonesia. Menurut keterangan Djamaluddin, karena puncaknya pada Rabu (8/4/2020) pagi pukul 09.35 WIB, supermoon bisa disaksikan malam Rabu atau malam Kamis. “Supermoon terlihat mulai maghrib sampai menjelang matahari terbenam,” ujar Thomas. Saat supermoon, bulan akan terletak di belakang Bumi bila dilihat dari matahari dan wajahnya akan sepenuhnya diterangi cahaya matahari.

Peristiwa Supermoon ini juga memberikan dampak bagi pola pasang maksimum air laut di Indonesia, terutama di daerah pesisir utara Jakarta, pesisir utara Jawa Barat, pesisir utara Jawa Tengah, pesisir utara Jawa Timur, dan pesisir Kalimantan Barat. Hal ini dapat berdampak pada gangguan transportasi di sekitar pelabuhan dan pesisir. Dampak bagi aktivitas petani garam dan perikanan darat juga terpengaruh oleh fenomena ini. BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari fenomena tersebut dan tetap memperhatikan update informasi cuaca maritim dari situs BMKG resmi.

Hujan Meteor Lyrids

Lyrids adalah hujan meteor biasa yang menghasilkan sekitar 20 meteor/jam pada saat puncaknya. Meteor ini diproduksi dari partikel debu yang ditinggalkan oleh komet C/1861 G1 Thatcher, yang ditemukan pada 1861. Hujan meteor Lyrids berlangsung setiap tahun mulai dari 16-25 April.

3 Fenomena Langit Di Bulan April 3Tahun ini puncaknya akan terjadi pada malam tanggal 22 April dan pagi tanggal 23. Thomas menjelaskan ada 3 syarat untuk menyaksikan hujan meteor Lyrids: Cuaca cerah Polusi cahaya minim. Jadi disarankan mengamati dari luar kota dan mematikan lampu di sekitar Medan pandang ke langit utara tidak terhalang bangunan atau pohon.

Hujan meteor ini sudah ada dan teramati sejak 2600 tahun yang lalu sehingga hujan meteor ini merupakan hujan meteor yang paling lama keberadaannya dibandingkan dengan hujan meteor yang lainnya.

Hujan meteor sendiri terjadi karena bumi berpapasan dengan benda angkasa yang lewat dan debu batuan yang terbawa masuk ke dalam atmosfer bumi. Benda angkasa ini berpapasan dengan bumi karena ia juga mengorbit ke matahari.

Nyaris semua debu komet ini habis terbakar dengan panas 1.650 derajat Celcius saat memasuki atmosfer. Momen ketika debu-debu ini terbakarlah yang kita saksikan sebagai hujan meteor di Bumi.

Untuk debu meteor dengan ukuran agak besar akan terbakar lebih lama dan nampak seperti sebuah bola api diangkasa bahkan hingga diiringi dengan suara ledakan dari daratan.

Ketika gugusan debu dari komet paling banyak terbakar secara bersamaan di atmosfer bumi, saat itulah hujan meteor mencapai puncaknya.

Bulan baru

Pada 23 April mendatang, bulan akan terletak di sisi bumi yang sama dengan matahari dan tidak akan terlihat di langit malam. Fase ini terjadi pada 02.27 UTC atau 09.27 WIB Menurut Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin, waktu terbaik untuk melihat langit malam adalah hari Kamis (22/3/2020) malam. Itu adalah waktu terbaik dalam sebulan untuk mengamati benda-benda redup seperti galaksi dan gugusan bintang, karena tidak ada cahaya bulan yang mengganggu. Biasanya hal tersebut dimanfaatkan fotografer untuk mengambil foto langit malam bertabur bintang atau galaksi.

3 Fenomena Langit Di Bulan April 4Bulan baru alias new moon adalah fenomena ketika bulan dan matahari berada di posisi yang sejajar. Dalam astronomi, new moon adalah fase pertama penampakan bulan. Pada fase ini, bulan tak terlihat dari bumi. Fenomena new moon terjadi setiap bulan karena bulan membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk mengorbit bumi.

Saat fenomena ini terjadi, bulan tidak bisa terlihat dengan mata telanjang, kecuali dengan peralatan khusus dan pengalaman memotret bulan. Mengutip Earth Sky, beberapa orang menggunakan istilah new moon untuk bulan sabit tipis yang terlihat di barat sesaat setelah matahari tenggelam. Sebetulnya, fenomena ini terjadi sehari atau dua hari setelah new moon. Dalam astronomi, bulan sabit tipis tersebut dikenal dengan nama young moon alias bulan muda. (opini.id)

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719