Ciputra, Perintis Perusahaan Properti di Indonesia (Kompas)

Ciputra: Kita Harus Ke Jakarta Sebab Di Sana Banyak Pekerjaan

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Ibarat dua sisi mata uang, selain dikagumi, ia juga disebut sebagai sosok yang kontroversial. Dialah Ciputra, pengusaha yang memulai bisnis dari nol hingga meraih sukses besar. Pak Ci — begitu terkenal dengan disapa — menurut para pengkritiknya, adalah orang yang setuju dengan perdebatan, seperti segregasi ruang sosial, fragmentasi layanan di perkotaan, membuka lahan pertanian dan memakainya menggunakan kemacetan di urban (Leaf, 2015).

Diharapkan dari itu, harus dicapai Ciputra telah berhasil mewujudkan modernisme yang diimpikan Orde Baru. Melalui perusahaan yang didirikannya, ia berhasil mengeksekusi sejumlah proyek pembangunan berskala besar di seluruh kota di Indonesia, termasuk Jakarta yang menjadi kota metropolitan.

Benih-benih Semangat Kewirausahaan

Lahir di desa Bumbulan, Parigi, Sulawesi Tengah pada 24 Agustus 1931, Ciputra (Tjie Tjin Hoan) merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara pasangan Tjie Sim Poe dan Lie Eng Nio yang memiliki usaha toko kelontong. Bersama perumahan, ia hidup serba berkecukupan. Namun kecamuk Perang Asia Timur Raya pada 1942 yang mencapai Hindia-Belanda mengubah semuanya.

Ketidaksenangan tentara Jepang terhadap orang-orang Tionghoa membuat permohonan dituduh mata-mata Belanda. Tjie Sim Poe pun dibui dan tak lama kemudian meninggal di Manado. Ironisnya, Ciputra baru tahu sang ayah telah menyelesaikan kompilasi pasukan Dai Nippon telah kalah perang pada tahun 1945. Selama rentang waktu itu, rumah dan toko kelontong diambil alih dan tidak dapat digunakan untuk menghasilkan uang rakyat.

Untuk bertahan hidup, bertahan bergantung hasil buruan di hutan dan bercocok tanam di kebun hingga berjualan topi yang terbuat dari daun. Dalam melaksanakan berburu, Ciputra belajar dari orang Sangihe Talaud dan kerap membawanya ke-17 anjingnya ke hutan. Buat tak mengecewakan, ia hampir selalu berhasil membawa babi hutan untuk dibawa pulang. Selain dikosumsi sendiri, hasil buruan juga dijual ke pasar, begitu juga hasil dari bercocok tanam.

“(Sejak Ayah meninggal) saya sadar harus tumbuh dengan cepat dan tiba-tiba kehilangan rasa malu dan keengganan (untuk membantu keluarga). Mulai dari awal hingga remaja dan mulai benih semangat kewirausahaan dalam diri saya. Benih-benih yang semakin matang dari waktu ke waktu dan menghasilkan sesuatu yang besar untuk kebutuhan hidup, ”tulisnya dalam   Dari Kotoran dan Potongan menjadi Emas: Visi untuk Kewirausahaan di Indonesia.

Meskipun serba kekurangan, sang ibu selalu mengupayakan agar Ciputra mendapatkan pendidikan yang memadai. Tradisi ini telah memulai kompilasi masih hidup. Usia enam tahun, Ciputra dikirim ke sekolah Belanda di Gorontalo. Setelah perang berakhir, ia kembali bersekolah di desa Bumbulan, kemudian melanjutkan pendidikan SMP Gorontalo dan SMA Don Bosco Manado hingga akhirnya menempuh studi di Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Bandung (ITB).

Semangat kewirausahaan Ciputra kembali muncul pada tahun depan perkuliahannya di Bandung. Saat itu sudah selesai lagi untuk mengirim uang bulanan. Ciputra lalu membeli batik di Bandung, kemudian dijual oleh seorang kawannya di Medan. Pada tahun 1957, ia merintis perusahaan konsultan arsitektur, PT Perentana Djaja bersama dua kawannya, Smail Sofyan dan Budi Brasali. Sampai saat ini, perusahaan ini masih tetap eksis.

Berkantor di sebuah garasi, perusahaan ini mendapatkan beberapa kontrak pekerjaan yang dinilainya lumayan. Salah satu yang berbicara tentang Ciputra adalah gedung bertingkat yang difungsikan sebagai bank di Banda Aceh. Karena kerjasama antara ketiganya harus berakhir sementara, karena Ciputra telah lulus kuliah dan berencana pindah ke Jakarta. Pada 1960, kepada dua sahabatnya, ia mengatakan “… Ke Jakarta … Kita harus ke Jakarta karena ada banyak pekerjaan” (Benny Lo, 2010).

Visi Pembangunan Jakarta

Sebenarnya persentuhan Ciputra dengan Jakarta telah terjadi sejak SMA di Manado. Saat itu, ia mewakili Sulawesi Utara sebagai atlet lari yang akan bertanding pada Pekan Olahraga Nasional (PON) II di Lapangan Ikada, Jakarta. Sementara itu, hanya mendapatkan finalis di nomor lari 800 dan 1,500 meter, ia sempat diundang Presiden Soekarno dan menikmati jamuan makan mewah di Istana Merdeka (Albertiene Endah, 2018).

Tak disangka persentuhan kedua Ciputra dengan Jakarta hanya bermodal nekat. Menurut sang istri, Dian Sumeler, pada mulanya mereka harus pindah dari losmen ke losmen sebelum akhirnya menetap di Kebayoran Baru ( PDAT,  2004). Selain itu, dengan mengusung bendera PT Perentjaja Djaja Ciputra dan hanya bermodal proposal pembangunan pusat investasi di kawasan Senen yang ditawarkan kepada Gubernur Jakarta, Soemarno.

Beruntung, ia mendapat bantuan dari Walikota Charles, bekas asisten Gubernur Soemarno. Ciputra pun diberikan kesempatan untuk memaparkan konsep pembangunan Jakarta. Di luar dugaan baik Gubernur Soemarno maupun Presiden Soekarno pun menyetujui dan menyetujui rencana yang diajukan Ciputra. Pada 1961, sebuah perusahaan milik pemerintah, PT Pembangunan Ibukota Jakarta Raya didirikan dan dipercaya untuk memasang proyek Pasar Senen (Dieleman, 2011).

Namun kemudian, perusahaan milik ini sedang bertransformasi menjadi perusahaan swasta. Pasalnya, pada 1962 muncul peraturan yang dikeluarkan pemerintah di sektor-sektor privat. Oleh sebab itu korporasi ini melakukan pengaturan ulang pembagian dan menjadikan Gubernur DKI Jakarta sebagai presiden komisaris Jaya Grup.

Meskipun begitu, hubungan perusahaan dengan para kepala daerah, terutama Ali Sadikin tetap terjalin dengan rapat. Perusahaan ini memerlukan perencanaan proyek-proyek pemerintahan. Salah satu yang paling monumental adalah pembangunan tempat wisata moderen di Jakarta, Taman Impian Jaya Ancol.

Ciputra: Kita Harus Ke Jakarta Sebab Di Sana Banyak Pekerjaan 2Topi menjadi ciri khas penampilan Ciputra di usia senja (UC)

Proses pengerjaan proyek ini terbilang sulit karen hingga 1967, Ancol dikenal sebagai kawasan rawa dan enggan dikunjungi oleh para wisatawan. Namun Ciputra berhasil meyakinkan Bang Ali untuk mengubah Ancol menjadi kawasan perkontaan dan tujuan wisata. Sang gubernur pun sangat setuju dan berkata, “Buatlah Ancol menjadi Disneyland di Indonesia” (Ciputra, 2012).

Ciputra lalu minta tawaran kerjasama untuk Disney America. Ia juga mengunjungi tempat wisata itu untuk melakukan kunjungan. Namun perusahaan asal Negeri Paman Sam itu menolaknya. Meski demikian, ia tak putus asa dan tetap yakin Ancol bisa menjelma menjadi tempat wisata moderen yang dikunjungi banyak orang.

Keyakinan itu berbuah manis. Proyek ini berhasil mewujud melalui pembukaan Pantai Ancol dengan fasilitas pertama, yaitu toko Bina Ria Ancol. Setelah itu, sepanjang tahun 1970-an muncul berbagai fasilitas lain, seperti lapangan golf, kolam renang, akuarium raksasa, hingga penginapan mewah (Putri Duyung Cottage dan Hotel Horison). Pada pertengahan 1980-an berhasil dirampungkan taman hiburan tematik, Dunia Fantasi yang tetap bertahan sampai sekarang (Merrillees, 2015).

Keberhasilan Ciputra dan PT Pembangunan Jaya dalam proyek Taman Hiburan Jaya Ancol membuat predikat Jakarta sebagai kota pantai kembali mencuat. Bersama Pembangunan Pasar Senen, kedua proyek ini menjadi simbol modernitas Jakarta pada masa itu. Kesuksesan ini juga membuktikan kemampuan Ciputra dan kapabilitas Grup Jaya sebagai perusahaan pengembang terkemuka di Indonesia (Dieleman, 2011).

Tidak bisa dipungkiri, kedekatan Ciputra dengan para penjabat pemerintah membuat PT Pembangunan Jaya banyak mendapatkan proyek pemerintah. Gubernur Ali Sadikin, misalnya, terang-terangan visi pembangunan yang ditawarkan oleh Ciputra. Selain itu, kedekatan relasi dengan para birokrat membuat perusahaan ini dapat membeli tanah dengan harga yang murah untuk membuat proyek-proyek yang menguntungkan pemerintah dan perusahaan pengembang.

Proyek Kota-kota Satelit

Dengan mengandeng para pemodal swasta, pada tahun 1970-an, Ciputra menerima pembangunan kota satelit di Jakarta. Proyek-proyek ini meliputi pengembangan kawasan Pondok Indah, Bintaro Jaya, dan Bumi Serpong Damai. Untuk mengerjakan proyek itu, ia membuat perusahaan patungan disetujui. Hingga saat ini terdapat lima perusahaan patungan yang digagas oleh Ciputra.

Selain Jaya Grup yang menggarap Bintaro Jaya, ia mendirikan PT Metropolitan Development pada 1970 bersama, Ismail Sofyan dan Budi Brasali yang fokus pada pembangunan hotel, seperti Hotel Horison di kawasan Ancol. Ciputra juga terlibat dalam pembentukan Grup Pondok Indah (PT Metropolitan Kencana) yang merupakan perusahaan patungan dengan pengusaha Sudwikatmono dan Sudono Salim (Liem Sioe Liong). Korporasi ini kemudian mengerjakan proyek perumahan elit Pondok Indah dan Pantai Indah Kapuk.

Grup usaha lain yang digagas Ciputra adalah PT Bumi Serpong Damai (BSD). Didirikan pada 1980-an, perusahaan ini merupakan konsorsium 10 pengusaha besar, seperti Sudono Salim, Eka Tjipta Widjaya, Sudwikatmono, Ciputra, dan Grup Jaya. Korporasi ini mengerjakan proyek kota mandiri selas 6.000 hektar. Tak hanya kawasan permukiman, perusahaan ini juga mengelola pusat pendukung lainnya, seperti jalan tol BSD Pondok Indah dan lapangan Damai Indah Golf.

Di luar itu, Ciputra juga membentuk sebuah perusahaan keluarga Grup Ciputra pada tahun 1981. Perusahaan ini didirikan setelah merampungkan studi di luar negeri. Perusahaan pertama yang didirikan adalah PT Citra Habitat yang kemudian diubah namanya menjadi Ciputa Development (CD).

Sejak mengerjakan CitraLand di Surabaya pada tahun 1993 seluas 1.000 Ha, kelompok usaha ini mengerjakan sebagian proyek-proyek lain. Mulai dari perumahan Citra (455 Ha), CitraRaya Kota Nuansa Seni di Tangerang (1.000 Ha), dan Citra Indah Jonggol (1.000 Ha). Di luar itu, termasuk pula proyek hotel dan pusat pengeluaran, seperti Hotel dan Mal Ciputra, serta Super Blok di Kuningan (14,5 hektar).

Agresivitas pembangunan yang dilakukan oleh beberapa perusahaan yang digagas oleh Ciputra bukan tanpa kritik. Salah satu proyek kontroversial yang dikerjakannya adalah Pantai Indah Kapuk. Alasannya proyek yang mulai dikerjakan pad tahun 1989 ini di atas lahan seluas 1160 hektar ini memiliki potensi kerusakan lingkungan.

Proyek ini telah mendapatkan izin dari Menteri Kehutanan Hasjrul Harahap dan Gubernur Wiyogo. Atmodarminto telah memperoleh izin dari pemerintah, sesuai dengan lembaga swadaya masyarakat, proyek ini menggunakan banjir di daerah Penjaringan dan ditampung di daerah yang berstatus zina hijau menurut RTRW 1985-2005. Untuk memuluskan proyek ini pada 1995, fungsi wilayah itu kemudian diubah menjadi kawasan permukiman (Dieleman, 2011).

Untuk mengerjakan proyek ini, Ciputra mendapat sokongan dari Grup Salim yang memiliki kedekatan dengan Presiden Soeharto. Meskipun ada berbagai protes dari sejumlah lingkungan dan menjadi isu kontroversial, Ciputra berhasil menyelesaikan proyek ini tetap berjalan. Selain itu, ia mendapat persetujuan dari orang nomor satu di Indonesia, yang diterbitkan pada tahun 1995.

Berhasil dari kontroversi itu, harus disetujui melalui perusahaan-perusahaan yang digagas Ciputra berhasil menuai keberhasilan melalui proyek-proyek yang dikerjakannya. Sampai saat ini, sebanyak 11 yang dirampungkan dan tersebar di Jabodetabek, Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, hingga Hanoi, Vietnam mencapai 20 ribu hektar.

Pararel dengan kesuksesan itu, perusahaan-perusahaan yang dibangun oleh Ciputra juga meraup keuntungan yang sangat besar. Salah satu yang paling fenomenal adalah Grup Ciputra. Pada akhir 1996, jumlah total perolehan perusahaan ini mencapai Rp 2,85 triliun dengan laba mencapai Rp 131,44 miliar. Sementara nilai salah satu anak usaha Grup Ciputra melonjak dari 50 juta Dolar AS kompilasi pertama kali melantai di bursa dan naik lima kali lipat menjadi 250 juta Dolar AS meningkatkan keuangan di Asia.

Mencoba Bangkit Setelah Krisis Melanda

Perusahaan-perusahaan yang didirikan Ciputra, termasuk Grup Ciputra dan berdaya menghadapi krisis ekonomi yang melanda negara di Asia. Meskipun krisis ini telah diperkirakan sejak 1997, namun ia masih optimis kekuatan finansial yang dimilikinya kuat untuk mengatasi terpaan badai resesi.

“Kami mengerjakan banyak proyek. Bahkan, sebagian besar perusahaan memiliki jumlah besar untuk bank asing. Tapi kami tidak khawatir karena proyek-proyek kami menantang masyarakat … Tidak mungkin kami tidak bisa membayar hutang, kata Ciputra optimis seperti temuat dalam buku  The Passion of My Life  (Endah, 2018).

Salah satu penyebab Grup Ciputra ambruk adalah lilitan hutang yang besar. Dalam jumlah besar dalam mata uang Dolar. Jumlah yang harus dibayar meningkat berkali-kali lipat nilai Rupiah yang terus menurun. Selain itu, penjualan yang dibayar drastis dan sejumlah proyek yang terbengkalai membuat banyak pelanggan yang marah dan para rekanan bisnis meminta pembayaran untuk mereka segera dicairkan (Dieleman, 2012).

Dengan alasan semacam ini, Grup Ciputra mengembalikan untuk bangkit dari keterpurukan. Perusahaan ini melakukan negosiasi piutang. Atas kebijakan desentralisasi yang dilakukan oleh pemerintah, Ciputra merambah wilayah-wilayah baru yang belum digarap, seperti Medan. Selain itu, ia juga melebarkan sayapnya ke berbagai negara. Mulai dari Vietnam, Kamboja, hingga Tiongkok (Dieleman, 2009).

Strategi yang dilancarkan oleh Ciputra terbukti manjur, membutuhkan waktu tujuh tahun untuk mendapatkan kembali. Jika margin laba yang diraih dalam 15 tahun terakhir mencapai 52 persen sebelum naik pada 1997-1998, maka pada 2007 margin laba kian mengecil mencapai 44 persen. Hal ini mengembalikan Grup Jaya menjadi perusahaan yang lebih sehat dari waktu ke waktu.

Salah satu rahasia sukses untuk bertahan dan bangkit dari krisis adalah kekuatan keluarga dalam struktur perusahaan Grup Jaya. Sejak awal didirikan Ciputra memang telah menyetujui anak-anak dan menantunya di dalam korporasi. Saat ini, sebagian besar dari posisi penting di perusahaan telah dimiliki oleh generasi ketiga yang tidak lain adalah cucu dan cicit Ciputra.

Ciputra: Kita Harus Ke Jakarta Sebab Di Sana Banyak Pekerjaan 3Ciputra saat berulang tahun ke-87 (Dokumentasi Keluarga)

Saat ini sang istri bersama keempat anak dan menantunya masih duduk di posisi penting di berbagai perusahaan yang bernaung di bawah grup Jaya. Selain itu, disajikan pula empat belas cucu, dan tujuh cicit yang merepresentasikan generasi keempat dan empat dalam hubungan keluarga itu. Meski masih sebagian besar dari mereka adalah universitas ternama di luar negeri dan telah menimbah ilmu pengetahuan di perusahaan ternama.

Dari empat belas cucu Ciputra, lebih dikenal dua nama yang mulai dikenal masyarakat. Mereka adalah Nararya Ciputra Sastrawinata dan Cipta Ciputra Harun. Nama yang disebut pertama kali dikumpulkan dari United World College of South East Asia (UWCSEA), Singapura pada 2004 dan Imperial College London di Inggris pada 2008. Ia bergabung dengan bisnis keluarga sejak 2009 dan langsung terlibat dalam proyek Citra Raya Tangerang.

Naraya juga ditugaskan untuk menangani proyek Grand Shenyang International City di Tiongkok selama 4,5 tahun dan melibatkan negosiasi dengan pemerintah lokal. Selanjutnya, ia akan menjadi Manajer Pengembangan Bisnis di CitraGarden City Jakarta (2013-2014) dan disetujui kemudian bergabung ke PT Ciputra Residence sebagai Manajer Umum Pengembangan Perusahaan dan kemudian dipromosikan menjadi direktur.

Seperti sang kakek, Naraya juga mengejutkan gemar mendirikan perusahaan lain di luar bisnis keluarga yang digelutinya. Salah satunya adalah Modal Indogen. Korporasi ini didirikan bersama bersama rekan-rekannya, termasuk Leontinus Alpha Edison yang merupakan salah satu pendiri Tokopedia bersama William Tanuwijaya. Saat ini Indogen Capital telah memiliki banyak rekanan, seperti Trevelio, Fastwork, Lunadorii, GoWork, FundPark, dan Venteny.

“Tantangan generasi ketiga saat ini memang  memenuhi harapan  dan pastikan belajar yang dimaui pasar kompetitor banyak dari orang asing. Rajin belajar aja. Selain itu  fleksibel  dan  mau berubah , ”kata pria kelahiran 1986 itu untuk  Bisnis.

Ciputra telah berpulang pada 27 November 2019 pada usia 88 tahun di Singapura. Namun demikian, akan diambil pudar dan masih tetap diterima melalui perusahaan yang didirikan bersama rekan-rekan bisnis dan peternakan Sudah dikeluarkan Pak Ci dibatalkan dan dipindahkan tongkat estafet ke generasi selanjutnya.

Sumber; law-justice.co

 

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719