FOUNDER Perkumpulan Kader Bangsa, Dimas Oky Nugroho

Ekonomi Kreatif Harus Jadi Gerakan Sosial untuk Anak Muda

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Founder Perkumpulan Kader Bangsa sekaligus Anggota Tim Asistensi Menko Perekonomian, Dimas Oky Nugroho mengatakan anak muda harus membuat gerakan sosial baru melalui ekonomi kreatif sehingga ekonomi kreatif ini tidak menjadi eksklusif.

“Ekonomi kreatif harus menjadi semacam gerakan sosial baru, yang menggalang dan menyentuh kelompok masyarakat lain sehingga produktif dan bermanfaat dalam memberikan dampak positif pada masyarakat. Di sisi lain ikut mengawal kebijakan-kebijakan yang terkait dengan UMKM secara khusus, dan kesejahteraan sosial secara luas,” kata Dimas di hadapan sejumlah komunitas anak muda di Surabaya yang mengikuti kegiatan ‘Pecha Kucha’ di East Atrium Grand City, Minggu (5/1/2020).

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Surabaya Creative Network dan Kolaborasi Positif. Acara ini juga diisi dengan talkshow yang mengusung tema “Semangat Baru dalam Mewujudkan Kolaborasi Antarkomunitas” dengan pembicara sekaligus panelis yakni Dimas Oky Nugroho selaku Founder Perkumpulan Kader Bangsa bersama Hafshoh Mubarak dari Surabaya Creative Network dan Jazuli Maksum Owner dari Jokopi.

Lebih lanjut, Dimas menyampaikan bahwa ekosistem ekonomi kreatif di Surabaya ini sangat baik. Terbukti sudah berhasil menunjukkan pertumbuhan ekonomi kreatif yang sejalan dengan kebutuhan pembangunan kota.”Surabaya cocok menjadi ibu kota kreatif Indonesia. Kerja sama antara pemerintah kota dan pelaku ekonomi kreatif yang mayoritas anak muda serta warga kota secara luas termasuk lembaga akademik dan media telah menjadi model dan inspirasi bagi anak-anak muda di berbagai kota lain,” tutup Dimas.

Untuk diketahui, kegiatan ini diikuti oleh puluhan komunitas dan ratusan anak muda di Surabaya. Dalam kesempatan itu, Pecha Kucha memberikan wadah bagi komunitas dalam mempresentasikan ide atau gagasan kreatif mereka untuk Surabaya kedepannya.

Pecha Kucha adalah model persentasi singkat dan sederhana khususnya oleh pegiat ekonomi kreatif yang pertama kali dikenalkan di Tokyo, Jepang. Format persentasinya menggunakan maksimal 20 slide dan masing-masing slide ditampilkan dalam 20 detik.

Di hadapan para panelis, peserta Pecha Kucha dari berbagai latar belakang mulai dari peggiat anak muda kreatif, komunitas, start-up, co-working hingga individu diberikan waktu 6 menit dalam mempresentasikan ide dan aktivitasnya.

Pada kesempatan itu, Dimas mengapresiasi inisiatif yang dilakukan oleh anak-anak muda Surabaya atas kontribusi dan memberikan solusi terhadap masalah sosial, ekonomi, budaya bahkan politik yang ada di Surabaya.

“Ekonomi kreatif dan komunitas yang dibentuknya membangun kesadaran anak-anak muda untuk lebih peduli, mandiri secara ekonomi dan bertanggung jawab pada lingkungan serta kontributif dalam memberikan solusi di sekitar mereka,” ungkapnya.

Sementara itu, Founder Surabaya Creative Network, Hafshoh Mubarak mengatakan bahwa di Surabaya terdapat banyak komunitas dan ragam kegiatan. Namun tokoh ekonomi kreatif Surabaya ini menilai keberadaan mereka kerapkali masih berjalan sendiri-sendiri.”Surabaya sebagai kota besar memiliki berjuta potensi, begitu banyak komunitas kreatif, mereka aktif dan kontributif, namun masih harus terus diakselerasi dalam sebuah forum komunikasi yang produktif. Keberadaan Surabaya Creative Network (SCN) yang saya pimpin dapat menjadi forum, hub sekaligus inkubator space antar komunitas kreatif yang ada di Surabaya dan sekitarnya, untuk berjejaring, saling tukar ide, bekerja dan berkembang bersama,” terangnya.

Namun demikian, sosok muda yang akrab dipanggil Hebs ini mengungkapkan pentingnya isu keberlanjutan atau sustainability terhadap keberadaan para pelaku ekonomi kreatif. “Dukungan pemerintah dan kehadiran investor adalah mitra utama ekonomi kreatif yang mau tidak mau harus dijadikan ekosistem yang fundamental.”

Jazil Mubarak selaku owner dari Kedai Kopi Jokopi mengharapkan institusi pemerintah dapat lebih peduli dengan perkembangan komunitas kreatif. Khusus untuk Surabaya, ia meyakini sebagai kota yang perkembangannya sangat pesat, Pemerintah Kota Surabaya harus memosisikan diri sebagai kota-nya anak muda kreatif, dan karenanya ikut mendorong dan membantu tumbuhnya ekonomi kreatif. “Saat ini memang kita tidak dapat hanya berpangku tangan pada pemerintah, namun perhatian pemerintah, khususnya dalam hal kebijakan dan fasilitas, juga penting dalam membantu tumbuhnya ekonomi kreatif,” tutup Jazil.

Sumber; jpnn.com

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on telegram

Cari Berita ?

Mau Lihat Arsip ?

Arsip Berita Kami

Tentang Kami

JARINGAN INDONESIA

Mengabarkan Fakta, bukan Hoax

“Portal Jaringan Indonesia, Portal berita berskala nasional mengusung platform berita dan video. Berita mengabarkan berita terbaru dan cepat melalui proses jurnalisme ketat, sementara video memberikan hiburan dan pengetahuan kepada pembaca ”

Kontak

  • Jl. Tamalate IV No. 15 Kelurahan Kassi-kassi Kecamatan Tamalate Kota Makassar
  • jaringanindonesiasatu@gmail.com
  • 081242503719